Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

 


Belajar Daring atau Tugas Daring

       Hampir dua bulan Indonesia berada dalam kondisi darurat Corona sejak awal Maret kemarin. Pemerintah mulai panik dan menata aktivitas kehidupan sosial rakyatnya lewat aksi jaga jarak. Sekolah, kampus dan dunia perkantoran adalah ruang lingkup yang paling disoroti pemerintah untuk menekan laju penyebaran Covid – 19 ini. Wajar, aktivitas belajar dan bekerja tidak pernah luput dari kerumunan dan interaksi antara manusia. Efek dari kondisi tersebut, presiden melalui gugus penanganan covid-19 memerintahkan beberapa pemerintah daerah untuk segera merumahkan siswa, mahasiswa dan para pekerja beraktivitas dari rumah.


Tiga minggu lebih belajar dari rumah atau dikenal dengan sebutan pembelajaran daring banyak diterapkan dibeberapa wilayah. Disatu sisi, kebijakan pemerintah ini memang efektif dalam menekan penyebaran covid-19, karena sekolah maupun perkuliahan merupakan komunitas besar yang setiap detiknya pasti terjadi pertemuan dua orang atau lebih, disamping itu pelajar merupakan pembawa virus yang potensial jika tidak dicegah dari awal.

Namun disisi lain, ada hal yang luput dari perhatian pemerintah. Pemerintah lupa bahwa  belajar daring bukan sebatas memindahkan aturan dan aktivitas sekolah dari sekolah ke rumah begitu saja. Sampai saat ini kemendikbud dan PGRI terus diminta mencari formula yang tepat agar siswa dan guru bisa melaksanakan pembelajaran dengan nyaman bukan sekedar tuntutan materi yang harus sampai ke siswa.

Semakin lama belajar dirumah, maka guru dan siswa semakin terus dituntut untuk melek teknologi, bukan sekedar hanya sebatas memantau via medsos tapi ikut turut mengembangkan pembelajaran dengan media – media yang interaktif. Betul jika yang terjadi adalah interaksi belajar, akan tetapi bagaimana dengan guru ataupun siswa yang belum sedikitpun menyentuh dunia virtual. Jangankan untuk membuat video pembelajaran, mengupload dokumen saja terkadang masih butuh tuntunan.

Hakikatnya belajar daring adalah memindahkan aktivitas belajar ke dalam dunia maya. butuh internet untuk mengakses dengan lancar, butuh signal yang kuat agar tidak terputus, butuh interaksi daring agar tidak monoton, dan banyak hal lain yang harus di dukung agar belajar daring ini sukses walaupun terkesan terburu – buru. Yang banyak terjadi sekarang ini adalah terabaikannya proses untuk mengerti konten, memotivasi, memberi rasa nyaman, dan membantu menguatkan pelajar ataupun mahasiswa demi tuntasnya program belajar daring.

Slogan “belajar daring atau tugas daring” kini terus bermunculan di status medsos para pelajar dan mahasiswa. Keluhan pemberian tugas yang beruntun tanpa adanya penjelasan dan pemberian stimulus justru banyak menyiksa pelajar dan mahsiswa yang sudah mematuhi aturan untuk berdiam diri dirumah saja. Interaksi yang terjadi sebatas hanya cukup sampai di pemantauan tugas dan pemberian nilai sehingga mengabaikan proses.

Memang kita harus melek teknologi, memang kita harus update dunia digital dengan segala pembaharuan, tapi secanggih apapun teknologi, ia tetap benda mati yang tidak bisa memberi rasa nyaman, perhatian dan kasih sayang. Teknologi juga tidak dapat serta merta membentuk karakter manusia sejak kecil. Tenaga pendidik adalah sosok yang dibutuhkan untuk tetap membentuk karakter. Jika hanya sebatas tugas yang dijadikan nilai, banyak siswa ataupun mahasiswa mahir teknologi yang cepat menyelesaikannya tanpa sebuah proses. Proses memanusiakan manusia yang hilang yang kini menyiksa pelajar dan mahasiswa dengan tumpukan pekerjaan.

Inovasi terus dibutuhkan bukan untuk memperdaya tetapi menuntut perkembangan keterampilan agar lebih tertata dan bermanfaat untuk khalayak. Tugas memang salah satu sub penting dalam pembelajaran untuk mengukur kemampuan, tetapi ada aspek transfer pengetahuan yang tidak boleh dilupakan, bukan untuk dijadikan bahan mentah saja kemudian dikirim. Yakinlah tidak ada satu manusiapun yang mau menjadi robot atas banyaknya pekerjaan. Berilah motivasi, perhatian, kasih sayang, pertanyaan – pertanyaan yang menanyakan kondisi psikisnya agar mereka tetap belajar tanpa beban, belajar dengan rasa nyaman dan menghasilkan banyak karya yang berkelanjutan tanpa paksaan.

Yusuf Sodhiqin
Yusuf Sodhiqin Hello, saya Yusuf Sodhiqin, Sahabat Rumah Belajar Banten 2020 Guru Matematika SMAN 1 Kota TangSel Juara IV Best Practice Nasional PJJ LPMP DIY Favorite Writer Lomba Puisi ASEAN 2020

2 komentar untuk "Belajar Daring atau Tugas Daring"

  1. Ups, iya juuga yah... Semoga kita bisa mahir membuat ana Belajar Mandiri, bukan melulu mengerjakan tugas

    BalasHapus
  2. Betul Bu rizkha,, terimakasih sudha mengunjungi n komen Bu hehee

    BalasHapus

silahkan beri komentar berupa masukan, saran, tanggapan dan sharing lebih lanjut bukan dengan kata - kata yang negatif. terimakasih