Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

 


GURU ITU PEMAIN PERAN

 


Mengajar adalah seni terindah yang saya suka dengan segala corat coret problema di dalamnya. Mengajar adalah seni menyampaikan kesabaran yang paling ikhlas. Banyak rasa yang harus tertahan demi ikhlasnya kesuksesan. Ada banyak kemuraman yang harus segera dicerahkan, ada banyak keambiguan yang harus segera di luruskan dan masih banyak buta aksara yang harus segera dibuka cakrawalanya. Tentu, menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah melakukan itu semua, bisa dibilang hanya mimpi yang mengatakan semua bisa terjadi begitu saja.

       Guru seperti lilin yang menyala ditengah kegelapan. Banyak kehampaan yang butuh di terangi dengan adanya sosok yang digugu dan ditiru. Menjadi lilin yang menyala sendiri disaat tidak ada satu cahaya yang mengikuti di belakangnya adalah hal yang sulit. Guru perlu menganalisis dimana sosok kecil di kegelapan yang perlu dibantu. Guru perlu meraba setiap sudut ruang agar tidak salah arah menerka situasi si kecil berada. Si kecil yang selama ini diliputi rasa acuh, cuek bahkan asing akan dunia ilmu.

       Banyak dari kita yang bisa menyampaikan ilmu bahkan orang tua sekalipun. Tetapi tidak jarang hanya sepintas menyampaikan ilmu tanpa geli dan peka sejauh mana ilmu itu berproses. Mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak orang tua yang dengan begitu saja melepas anaknya bersekolah, dengan iming – iming kata “prestasi” atau “sukses”, dan banyak juga diantaranya yang hanya ingin menang nama. Orang tua percaya bahwa anaknya sekolah agar bisa pintar, menjadi juara dan orang ternama, dengan begitu nama orang tuanya ikut terseret digemakan luar biasa. Padahal, proses mendewasakan lebih dari itu.

       Delapan jam guru bersama siswa di sekolah, selebihnya tidak bisa dijamin keberadaannya. Delapan jam dimana tempat guru dan siswa bertemu menandatangani kontrak belajarnya yang tujuannya mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan tujuan receh atau pun remeh, semua dijamin dan dituntut Negara. Gagal di tengah kontrak bukanlah hal yang gampang untuk dibawa ke meja pengadilan seperti seorang dokter yang melakukan mal praktek kepada pasiennya. Sekolah adalah tempat sebatas torehan ilmu dikirim dan diterima, sebatas proses pendidikan formal berjalan tanpa mengerti bagaimana waktu sisa anak - anak digunakan di luar sekolah. Tentu lagi – lagi orang tua harus jadi ikut bermutu berperan sebagai guru di luar sekolah.

       Satu hari delapan jam adalah waktu yang singkat untuk saya bertemu siswa, mengenalnya, menghafal wajah dan namanya, bahkan memantau perkembangannya, itu pun kalau saya mengajar kelas anak tersebut hari itu. Yang saya hadapi adalah makhluk hidup bukan benda mati seperti laptop, kertas, printer seperti pegawai – pegawai lain dikantornya. Yang saya hadapi adalah makhluk hidup yang dibekali akal dan rasa. Bukan masalah pintar atau tidak bisa, prestasi atau tidak, lulus atau gagal, naik kelas atau tidak. Lebih dari itu, mereka punya organ kecil anti gores yaitu hati yang menjadi ruang besar pencapaian kesuksesannya kelak

       Waktu luang adalah waktu berharga dimana curhatan, permainan, candaan, kesedihan mereka bisa tumpahkan lebih berlimpah dari ilmu pelajaran. Delapan jam dijamin pasti bermutu, setelahnya tidak ada yang bisa menjamin. Ada anak yang melepas kegundahannya dengan bermain di warnet, nongkrong di mall, menginap di rumah temannya atau bersenang – senang di jalan. Namun, ada juga diantara anak – anak tersebut yang bosan lebih memilih menghantarkan tubuhnya di atas kasur untuk rehat.

       Begitulah anak milenial sekarang. Waktu bersama lebih berharga dari sekedar pemberian uang jajan. Banyak hal dilakukan berlandaskan di sana senang di sini senang. Ketika kesenangan itu tidak didapat, yang terjadi hanyalah pelarian dan pelampiasan ketidakadilan akan kasih sayang. Bahkan tak jarang memilih sebagai bentuk pemberontakan, karena keberadaannya tidak pernah diakui.  

       Guru harus ingat bahwa yang ditemui di sekolah bukanlah hanya serpihan otak yang berisikan memori, tetapi utuh dilengkapi dengan hati. Ilmu gampang diberi tetapi penerimaan hati sulit di cermati. Sebelum masuk ke kelas, semua anak datang dari ragam suku yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, ekonomi yang berbeda, bahkan kondisi keluarga yang berbeda, untuk itu perlu pendalaman peran dalam menyelami kondisinya.

       Guru harus bisa menjadi pendongeng yang membuat anak – anak tertidur lelap dalam sebuah metode pengajaran. Membuat anak bermimpi lebih banyak dengan cerita – cerita orang sukses yang di dengungkan dengan merdu. Guru harus bisa menjadi aktor atau aktris sebagai pemeran utama sebuah drama pembelajaran agar situasi yang dibawa meresap dan dihayati semua anak – anak. Disinilah letak multitalenta seorang guru yang harus bisa memainkan segala posisi demi menyentuh hati.

Yusuf Sodhiqin
Yusuf Sodhiqin Hello, saya Yusuf Sodhiqin, Sahabat Rumah Belajar Banten 2020 Guru Matematika SMAN 1 Kota TangSel Juara IV Best Practice Nasional PJJ LPMP DIY Favorite Writer Lomba Puisi ASEAN 2020

Posting Komentar untuk "GURU ITU PEMAIN PERAN"