Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

 


MENJADI GURU DARI CORETAN TEMBOK

 


    Tidak ada yang menyangka anak lemah seperti saya pada akhirnya menjadi guru, profesi yang amat sangat penting dalam membentuk peradaban memanusiakan manusia. Yang saya pikirkan hanyalah kebebasan berekspresi mengerjakan apa yang saya inginkan di masa kecil. Bermain sesuka hati, mengacak – acak peralatan rumah untuk saya mainkan sendiri.

       Terlahir menjadi guru bukanlah salah satu cita – cita di masa kecil saya. Seringnya saya berbicara sendiri menghadap kaca, melihat pembawa berita yang gagah tampil di layar kaca seakan membuat saya saat itu ingin menjadi penyiar berita. Tampil disaksikan banyak orang adalah dambaan saya saat itu. Tidak terlintas sama sekali di pikiran saya kata – kata “guru”. Yang saya mengerti saat itu, bahwa guru adalah orang yang saya temui di sekolah dan menjelaskan pelajaran.

       Bertambahnya umur membuat saya heran dengan apa yang terjadi di diri saya saat masih kecil, sedikit – sedikit minta kertas gambar, sedikit – sedikit minta pensil. Padahal, pada akhirnya saya hanya menulis atau menggambar apa yang saya pengen ceritakan di pikiran saya kepada keluarga saya dirumah, tetapi berontaknya luar biasa apabila permintaan kertas gambar dan pulpen saya tidak dituruti. Yang saya lakukan saat itu adalah coret – coret kertas sampai penuh lalu membuang kertas itu ke samping dan mengambil kembali kertas baru, begitu terus yang saya lakukan.

       Saya pernah membuat heran Bapak dan Ibu saya sewaktu kecil karena saya sering tiba – tiba melakukan secara diam – diam mencoret – coret tembok di kamar atau ruang keluarga sambil berimajinasi saya adalah pengajar dan ada anak – anak di depannya. Saya menggunakan crayon atau pensil warna saat itu yang saya gunakan biasanya untuk mencoret – coret di kertas gambar tetapi kali ini saya nyeleneh untuk mencoret – coret tembok sambil menceritakan sendiri apa yang ditulis disana. Saya lakukan semua itu diam – diam agar tidak ada yang menyimak gerak – gerik saya bermain saat itu. Pikir saya saat itu hanyalah apabila Bapak dan Ibu saya mengetahui apa yang saya lakukan, seisi rumah pasti akan mengira saya adalah anak kecil yang “aneh” bahkan “tidak waras”, karena yang saya lakukan adalah berbicara sendiri.

       Suatu hari ibu saya tiba – tiba melihat banyaknya goresan, coretan, tulisan, bahkan gambar – gambar abstrak yang ada di tembok rumah. Benar saja, kaget setengah mati, bingung mau beralasan apa, akhirnya ibu mengetahui apa yang saya lakukan selama ini. Dengan mata mengherankan, ibu bertanya langsung menatap saya, “ayo, siapa ya yang menulis banyak tulisan, corat – coret di tembok? Hmm, kenapa sih harus di tembok ?” dengan nada agak sedikit kesal. Saya hanya bisa merasakan keringat dingin badan saya, sambil memberanikan diri menjawab sambil terbata- bata dan berkata pelan “itu kerjaan aku bu”. Sudah habis saja pikiran saya saat itu, akhir dari banyaknya tembok yang bukan putih lagi warnanya tetapi penuh dengan coretan – coretan abstrak ekpresi anak kecil. Dihukum dengan tidak ada uang jajan, atau dikunci di kamar. Dengan ikhlasnya ibu tidak langsung memarahi saya, tetapi berinisiatif meminta Bapak membelikan cat, dan mengecat ulang tembok karena pemandangan tidak bagus apabila ada tamu. Lega hati saya mendengar itu.

       Sejak saat itu saya hanya bisa menahan keinginan saya mencoret tembok dengan menggenggam crayon lama – lama ditangan dan mengambil celah sedikit demi sedikit tetap mencoret tembok rumah. Memang tidak sebanyak sebelumnya, tetapi menghilangkan kebiasaan itu nampak susah sekali mengeksekusinya. Bapak dan ibu sampai harus mengecat ulang tembok berapa kali dan akhirnya membiarkan kebiasaan saya ini sampai SD kelas 5. Mungkin sudah di ujung lelah menegur dan melihat itu berulang terus.

       Sejalan dengan akhirnya saya memasuki tingkat SMP hingga SMA, kebiasaan itu sedikit demi sedikit hilang dan menyadari bahwa pekerjaan tersebut sangat merugikan Bapak dan Ibu, mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli cat baru. Saya mengelabuhi pikiran saya saat itu bahwa pekerjaan mencoret – coret itu adalah cukup menjadi favorit di masa kecil saya. Kebiasaan mencoret – coret itu hilang tetapi kesukaan saya berbicara sambil bercerita dari tulisan saya ternyata berlanjut di sekolah menengah sampai kuliah. Kesukaan saya menjelaskan materi berimbas pada banyaknya diskusi yang saya lakukan dengan teman sambil membantu teman – teman mengulangi pelajaran yang mereka tidak bisa. Perasaan saya saat itu hanyalah senang, terdapat kepuasan tersendiri setelah berbagi dengan celotehan saya saat itu.

       Ternyata passion coret – coret dan bercerita di depan membuat saya menyukai profesi guru. Saya melihat guru itu keren, bisa menyalurkan pemikiran mereka secara visual dalam bentuk tulisan atau gambar sambil bercerita. Terlintas saat itu dalam hati saya berkata “itu saya banget!”. Sejak saat itulah saya berniat dan bermimpi menjadi guru. Tersirat dalam pekerjaan tersebut, ada hal terindah yang tidak bisa di deskripsikan ketika saya bisa berbagi ilmu dengan apa yang saya jelaskan. Semua itu yang saya rasakan secara mendalam sampai saat ini berprofesi sebagai seorang guru.  

Yusuf Sodhiqin
Yusuf Sodhiqin Hello, saya Yusuf Sodhiqin, Sahabat Rumah Belajar Banten 2020 Guru Matematika SMAN 1 Kota TangSel Juara IV Best Practice Nasional PJJ LPMP DIY Favorite Writer Lomba Puisi ASEAN 2020

Posting Komentar untuk "MENJADI GURU DARI CORETAN TEMBOK"