Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

 


Warisan Ibu Yang Tidak Terlekang Waktu

 

       Hidup bagaikan serpihan kisah – kisah yang terangkai menjadi satu. Banyak celah rasa dan emosi yang membuat hidup kita menjadi warna – warni. Saya percaya bahwa setiap kejadian dalam hidup adalah anugrah yang indah dan telah diatur sesuai rencana Tuhan. Saya bersyukur saya melewati banyak momen yang menjadikan saya kini lebih dewasa dan mandiri. Bangkit dari kesulitan dan berjuang mengelabuhi banyak hal yang takut untuk dicoba.  

       Perkenalkan nama saya adalah Yusuf Sodhiqin. Saya dilahirkan dari Bapak dan Ibu yang tangguh dan sederhana. Bapak saya merupakan tamatan SMA di Kulon Progo, merantau bekerja sebagai PNS di Jakarta yang ditahun 80-an gajinya belum sebesar dan selayak gaji PNS saat ini. Ibu saya merupakan tamatan SMP yang menyukai pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus rumah dan anak – anaknya. Saya adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Dua kakak saya semuanya adalah perempuan.



       Saya memang anak laki – laki satunya di keluarga ini, berharap menjadi cowo tangguh yang bisa menggantikan bapak kelak untuk melindungi ibu dan kakak – kakak perempuan saya. Namun, ternyata tidak semudah itu perjalanannya. Keinginan untuk bergerak bebas layaknya anak laki – laki harus dibatasi di saat saya sering bolak balik di rawat di rumah sakit karena sakit typus. Sakit typus inilah yang membuat Ibu di masa kecil memproteksi diri saya menjadi ketat dan super melindungi. Sejak saat itu ibu sering menanyakan saya main kemana, pulang kapan dan selalu mengatakan “kamu tuh ga boleh capek capek dik”.

       Kekhawatiran ibu semakin bertambah ketika dokter saat itu mengatakan bahwa tulang saya tidak bisa berkembang. Saat itu umur saya sudah beranjak sepuluh tahun tetapi tulang saya masih seperti tulang umur anak empat tahun yang rentan. Sejak saat itu pula saya selalu diantar dan dijemput di sekolah oleh Ibu dengan sepeda. Bahkan pada saat saya duduk di SMP, ibu memutuskan meminta salah satu tetangga di samping rumah untuk mengantar dan menjemput ke sekolah karena ibu harus membuat kacang gorek dan rempeyek untuk dijual ke kantor Bapak. Ibu memang sudah terbiasa bekerja di rumah membuat kacang goreng dan rempeyek setiap harinya untuk menambah uang membeli obat yang tidak bisa ditebus dari asuransi tempat kerja Bapak.

       Dengan perlakuan ibu seperti itu, saya hanya bisa tanamkan niat dalam hati bahwa saya harus sukses sampai ibu bangga terhadap saya, saya tanamkan tekad kuat untuk lulus SMA melanjutkan kuliah dan harus bisa memberi toga sarjana saya kelak di depan Bapak dan Ibu. Kabar bahagia datang disaat saya dipanggil guru BK SMA saya yang mengatakan bahwa saya diterima jalur PMDK (sekarang SNMPTN/Undangan) di Jurusan Matematika Universitas Gajah Mada. Walaupun pada akhirnya rasa bahagia itu sejenak harus tertahan dan dibuang. Ridho Ibu memberhentikan bahagia saya yang lagi dan lagi masih mengkhawatirkan saya kuliah jauh sehingga tidak mengizinkan saya kuliah di UGM. Akhirnya saya menolak PMDK tersebut walau harus berkali – kali diberi ceramah guru BK saya saat itu.

       Adanya kebimbangan apakah harus bekerja atau melanjutkan studi menjadi cobaan awal untuk melanjutkan kuliah setelah itu. Kondisi bapak yang sudah pensiun membuat saya awalnya enggan untuk melanjutkan kuliah. Saya lebih memilih bekerja terlebih dahulu di sebuah tempat makan di Jakarta selama enam bulan, agar mendapat pemasukan untuk uang pendaftaran dan semester awal masuk kuliah sehingga tidak lagi merepotkan orang tua. Tiga bulan bekerja di tempat makan tersebut, penghasilan yang didapatkan akhirnya dapat mencukupi uang pendaftaran tes dan semester awal kuliah. Saya memutuskan mengikuti tes masuk UIN Jakarta dan diterima pada pilihan pertama yaitu jurusan pendidikan matematika. Akan tetapi, saya tetap harus berusaha agar uang kuliah dan kehidupan sehari – hari harus tetap didapatkan dengan jerih payah sendiri. Saya memutuskan tetap bekerja menjadi guru bimbel setelah selesai pulang kuliah.

       Ditengah saya menjalani kuliah, saya mendapati kondisi ibu sakit diabetes dan harus dirawat di rumah sakit UIN Jakarta. Hari itu mengubah semua keadaan. Canda tawa, kuatnya perjuangan, serta persembunyian rasa lelah dari wajahnya pupus seketika. Glukosa ibu yang tinggi membuat ibu saat itu harus ketergantungan suntik insulin. Membayangkan bagaimana sakitnya setiap hari disuntik tiga kali, belum menahan segala makanan yang harus dipilih agar gulanya tidak naik membuat badan ibu semakin kurus. Ya Allah aku tidak tega melihat kondisinya, seandainya aku bisa mengganti rasa sakitnya demi pengorbanan yang sudah banyak dilakukan selama ini bahkan tidak terbatas.

       Sejak saat itu, sebelum berangkat kuliah dan malam setelah pulang mengajar bimbel, saya mengambil alih menyuntik insulin Ibu seperti yang diajarkan dokter saat itu kepada saya. Terkadang saya meninggalkan perkuliahan di siang hari untuk sedikit membantu memasak menyiapkan makan siang dan menyempatkan menyuntik insulinnya. Saya mulai cerewet akan menu makan dan minum yang ibu konsumsi setiap hari. Saya mulai mengatur pola makan Ibu dengan tujuan kondisi ibu membaik dan bisa melihat saya wisuda dan menikah dalam kondisi sehat.      

       Tepat di semester tujuh, saya mengajukan judul skripsi dan seminar proposal lebih dulu tanpa ditemani teman lain satu angkatan saya. Keputusan saya tersebut membuat saya saat itu berpikir apakah saya yang terlalu terburu – buru, padahal banyak teman yang belum berpikir kearah sana. Namun, motivasi orang tua, teman dekat dan keinginan lulus cepat untuk mengurangi biaya perkuliahan, membuat saya meneruskan perjuangan mencari sumber bahan skripsi dan menunggu lama dosen pembimbing di jurusan untuk bimbingan. Alhasil, saya berhasil menamatkan S1 saya di pendidikan matematika UIN dengan predikat cumlaude, serta menjadi orang pertama yang menjalankan sidang skripsi di tahun angkatan saya kuliah. Hasil itu diluar dugaan dari prediksi saya yang tidak berniat kuliah diawalnya dan dengan diri yang sempat banyak menggantungkan kemanjaannya ke Ibu.

       Wisuda Mei 2016 adalah momen terindah luar biasa yang akhirnya saya buktikan kepada orang yang selalu membangkitkan diri ini dari kondisi anak laki – laki yang lemah menjadi sarjana pendidikan yang sukses sebagai wisudawan terbaik. Bapak, Ibu dan kakak saya memeluk saya satu persatu, bahkan ibu yang belum terlalu sehat memakai kebaya cantik menemani saya di dalam aula pengukuhan sarjana. Bukan gelar yang saya banggakan, tetapi pencapaian yang saya berikan kepada keluarga kecil saya ini membuktikan saya akhirnya bisa berbuat lebih dari orang lain.

       Tidak lama setelah itu, entah kejaiban doa Ibu yang keberapa yang saya alami sehingga tidak ada jeda lama dari saya wisuda, saya di telepon kerabat yang mengatakan bahwa ada temannya dari MAN 2 Kota Bogor, salah satu sekolah yang sudah banyak penghargaannya meminta saya mengajar disana setelah melihat riwayat hidup saya. Enam bulan menjalani pekerjaan di Bogor, hati ini tidak karuan mendengar kabar kondisi Ibu yang menurun dan harus kembali dirawat. Berbarengan dengan itu, saya tiba – tiba mendapat panggilan telepon dari wakil kurikulum SMAN 1 Kota TangSel yang meminta saya untuk mengajar disana. Seakan rencana Allah itu rahasia dan selalu indah, mungkin ini jalan untuk saya bisa merawat Ibu. Akhirnya, pada januari 2017 saya resign dan pindah mengajar di SMAN 1 Kota TangSel. 

       Sejak kepindahan saya hari itu, saya mulai rutin merawat Ibu sambil mengajar. Baru berjalan empat bulan mengajar di tempat baru, kondisi Ibu semakin drop dan tidak ada keinginan lagi untuk berobat. Yang saya lakukan saat itu hanyalah menangis dan terus menangis, tidak berhenti berpikir cara terbaik apa agar ibu mau dirayu untuk sembuh dan mau berobat.

       Awal Mei 2017, kondisi ibu benar – benar memburuk. Bahkan ibu harus memakai pampers dewasa karena sudah tidak bisa bangun dan hanya bisa mendengarkan suara saya. Saya mau menjatuhkan lutut saya setiap harinya melihat kondisi ini semua. Saya hanya ingat ibu sempat berkata ditengah lirihnya merasa sakit bahwa ibu takut pergi karena memikirkan siapa yang nanti menyiapkan sarapan, air hangat untuk mandi saya setiap pagi ketika ibu tidak ada. Ya Allah, jujur saya tidak mau mendengar kata – kata ini terlontar dari mulut Ibu. Saya hanya lirih berkata “Ayo ibu balikkan semangat ibu lagi, jangan buat hidup anakmu ini setengah mengambang”.

       Ternyata ujian datang dari arah yang berbeda lagi. Di awal bulan tersebut, saya mendapat pemanggilan kepala sekolah karena ada suatu hal yang perlu dibahas. Mungkin ini imbas dari ketidakhadiran saya selama 3 minggu di sekolah. Bapak kepala menggeletakkan sebuah amplop putih besar di atas meja tepat di hadapan mata saya. Benar saja, tertulis “surat peringatan”. Bapak kepala hanya berkata, “jika anda ingin lanjut tolong masuk kembali, saya mengerti kondisi anda tetapi saya tidak bisa membiarkannya terlalu lama”. Hanya bingung yang ada saat itu. Di pikiran saya hanyalah Ibu dan Ibu, saya hanya bisa menjawab bahwa “saya tidak masalah jika bapak kepala mengeluarkan saya, saya yakin rezeki akan sejalan dengan bakti kita terhadap orang tua”. Lalu saya hanya keluar ruangan menyimpan sedih saat itu.

       26 Mei 2017 takdir berkata lain, setelah semalaman mendampingi Ibu dirumah dan tidak tidur. Tepat sebelum adzan subuh berkumandang, Ibu dipanggil yang Maha Kuasa. Hati ini lega karena ibu sudah tidak kesakitan, namun di hati yang paling dalam sejujurnya hati ini retak, pecah, hancur berharap menginginkan ini hanya mimpi. Ya Allah, hati ini mencoba kuat, tegar tapi sampai kapan harus berbohong. Tiga bulan hidup saya dilimuti kesedihan, tidak bersemangat bahkan malas untuk berpergian.

       Perlahan saya sadar, Allah ketukkan hati saya bahwa masih ada Bapak yang butuh kasih sayang anak – anaknya. Saya bersama Bapak pindah dan tinggal berdua di rumah yang baru untuk melepas semua kenangan yang akan terus membuat air mata ini jatuh hingga kering. Saya mulai menyiapkan sarapan bapak sebelum kerja setiap harinya, membereskan rumah, mengatur keuangan rumah, mencuci pakaian, semua pekerjaan Ibu yang dahulu belum pernah aku sentuh.

       Saya mulai bekerja normal, justru ditambah kesibukannya. Tidak lama setelah ibu pergi, justru bapak kepala sekolah saat itu menambah tugas saya dan mempercayai saya di posisi – posisi penting, jadi teringat surat peringatan itu. Saya mendapatkan undangan seminar jurnal penelitian saya. Saya berhasil mengantarkan anak bimbingan saya juara matematika pertama kalinya setelah tiga tahun tidak juara. Mungkin ini maksud tuhan atas dalil “jangan takut berbakti sekalipun kamu mengorbankan hartamu, pasti akan dibalas yang lebih baik”.

      Hidup itu seperti roller coaster kadang di atas, kadang di  bawah. Tahun 2018 ternyata menjadi tahun kedua keterpurukan saya dalam hidup. Bulan februari saya mendapati bapak saya berbaring di lantai dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dengan panik, saya membawanya ke dokter spesialis dalam dan dokter mengatakan bapak terkena struk. Sedih, gundah, kesal seperti tidak bisa merawat bapak menghantui rasa hati saya saat itu. Saya mengerti pasti bapak selalu merasakan kehilangan sosok pendampingnya selama ini dan merasa kesepian. Sejak saat itu bapak tinggal bersama kakak kedua saya untuk dirawat setiap harinya.

       November 2018, situasi yang paling tidak diinginkan terjadi lagi. Baru saja tiba disekolah lima menit di pagi hari, panggilan telepon dari kakak yang saya angkat mengabarkan bahwa bapak jatuh di kamar mandi dan tidak dapat ditolong lagi. Ya Allah, rencana apalagi ini. Sungguh saya sendiri saat itu, saya tidak mempunyai orang tua lagi, saya mau berbuat apa. Semua itu seperti terjadi begitu saja.

       Tidak sadar mentari pagi terus muncul setiap harinya menyambut hari baruku. Hidup harus berjalan, Bapak dan Ibu tidak mau melihat anaknya bersedih terlalu lama. Menyambut hari – hari berikutnya dengan kemandirian dan ketegaran demi hidup dan pembelajaran yang telah Bapak dan Ibu tinggalkan sebagai warisan berharga. Saya membangun semangat mengajar kembali sembari melanjutkan hobi saya menulis. Kemandirian yang sudah ada sekarang serta tekad untuk menjadi imam seorang perempuan membuat saya memutuskan menikahi perempuan yang saya pilih pada Juni 2019.

       Rezeki akan selalu berdampingan ketika prioritas hidup mengedepankan orang tua. Alhamdulillah setelah Bapak dan Ibu tiada, banyak keberkahan menyusul yang saya terima. Sedikit demi sedikit tulisan saya mulai diterima banyak orang. Tulisan opini pertama saya “Belajar Online atau Tugas Online” berhasil saya publish dan tayang di web. Puisi saya berhasil berkontribusi dalam pusat loma seni “Amazing ASEAN Poetry” yang diikuti Sembilan Negara termasuk Indonesia dan mendapat penghargaan sebagai Favorite Writer. Belum lama ini, saya juga berhasil membuat karya tulis saya Inovasi Pembelajaran Daring Selama masa darurat covid-19 menjadi Juara IV Best Practice Tingkat Nasional oleh LPMP Kemendibud DIY. Terimakasih Ya Allah atas pencapaian ini dan pembelajaran yang telah Engkau beri. Terimakasih ibu atas kemandirian dan keberanian yang tanpa sadar telah engkau ajarkan kepadaku disaat sakit.


Yusuf Sodhiqin
Yusuf Sodhiqin Hello, saya Yusuf Sodhiqin, Sahabat Rumah Belajar Banten 2020 Guru Matematika SMAN 1 Kota TangSel Juara IV Best Practice Nasional PJJ LPMP DIY Favorite Writer Lomba Puisi ASEAN 2020

Posting Komentar untuk "Warisan Ibu Yang Tidak Terlekang Waktu"