Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

 


Kuliah Umum - Belajar dalam Mengajar

 

Kuliah Umum - Belajar dalam Mengajar


Selasa, 15 September 2020, part selanjutnya adalah pemaparan materi yang lebih tepatnya adalah cerita pengalaman dari Butet Manurung, MAAPD yang merupakan aktivis pendidikan dan pendiri sekolah rimba. tahun 1999 Butet Manurung pertama kali ke Rimba Bukit Dua Belas Jambi dimana masyarakat orang rimba sudah hidup damai tanpa masalah ratusan tahun. orang rimba sudah terbiasa dengan membaca tanda alam atau bencana, obat tradisional, mantra, pengetahuan adat, norma dan kepercayaan, menghafal jejak, kontur tanah. 




Sistem Pendidikan Lokal

Kebanyakan masyarakat adat dan pedalaman melihat pendidikan sebagai alat untuk memecahkan masalah mereka dengan tetap menjunjung adat istiadat, cinta kampung halaman, bukan meraih gelar tinggi dan mendapatkan gaji yang besar.

Masyarakat adat hidup secara berkelanjutan dan berkecukupan selama ratusan tahun dengan mengandalkan pengetahuan tradisionalnya tersebut. Semakin banyak komunitas yang tidak mandiri justru di zaman sekarang ini. Jika kita mau membantu, hendaklah pengetahuan tersebut sifatnya sebagai pengetahuan TAMBAHAN yang melengkapi (yang complimenting), bukan yang menyingkirkan pengetahuan yang sudah ada


Metode Sokola


Metode yang terkenal dari metode Sokola adalah metode "Hadap Masalah" dimana anak - anak diyakinkan bahwa mereka sudah mampu belajar bukan hanya selembar kertas kosong tetapi sudah memiliki pengetahuan awal, pengetahuan tambahan mereka dapat dari alam dan orang tua mereka. Mengapa sekolah formal tidak cocok untuk mereka ?. Sekolah formal tidak mengajarkan kemampuan yang sesuai dengan kondisi/potensi sekitarnya. Sekolah Formal tidak mengakomodir cara belajar lokal dan sifat alamiah yang dinamis di alam bebas. Sekolah Formal tidak (ajar) mengatasi persoalan kehidupan dan perubahan sekitar murid (setan bermata runcing). Sekolah Formal tidak (belajar) merespon persoalan kehidupan dan perubahan sekitar anak (setan bermata runcing). Sekolah Formal tidak mengakomodasi nilai dan kebenaran versi lokal.


Istilah Sekolah Untuk Pergi

Anggapan: semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin besar kemungkinan seseorang meninggalkan kampung halamannya dan adat-istiadatnya. Karena ia semakin jauh dengan realitas sekitarnya. 


Prinsip Guru Humality (Human, Humus, Humble)

Pendidikan itu membebaskan. Belajar dulu sebelum mengajar. Guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu sarana pendidikan, bukan tujuan!

Pendidikan harus kontekstual berdampak, artinya berkontribusi dalam kehidupan. Orang Rimba bertanya “Sungai di Jakarta kok kotor? Bukannya Orang di Jakarta sekolah semua?” “Pintar fisika tapi gak bisa benerin setrika rusak, itu aneh” “Kenapa justru di depan sekolahan banyak plastik, bukankah plastik itu buruk unyuk lingkungan?”


“Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan” Orang Rimba

Yusuf Sodhiqin
Yusuf Sodhiqin Hello, saya Yusuf Sodhiqin, Sahabat Rumah Belajar Banten 2020 Guru Matematika SMAN 1 Kota TangSel Juara IV Best Practice Nasional PJJ LPMP DIY Favorite Writer Lomba Puisi ASEAN 2020

Posting Komentar untuk "Kuliah Umum - Belajar dalam Mengajar"